Khutbah Jum’at kemarin termasuk salah satu yang berkesan gan. But, eniwei emang sudah lama saya tidak menulis di blog ini. Maklum siang kerja malam kuliah, aktivitas yang kadang kadang monoton menurut saya.
Back to topic, khatib kemarin menyinggung masalah kontroversi UNAS yg sedang hot. Tp sebelumnya ane singgung dulu mengenai hal yang pertama. Yaitu ttg khatib yg pernah menanyakan pada salah satu mahasiswanya,”Berapa kali rakaat dalam sholat anda melakukannya tiap hari?”
Dia jawab,”17 rakaat pak”, gak lebih gak kurang?, “nggak pak”. Never mind. Terus si khatib menganalogikan masalah ini dengan halnya IPK. Memang sih, ketika tiap hari sholat 17 rakaat itu sudah dianggap “lulus” kewajiban sholat tiap harinya.
Nah ketika IPK seorang mahasiswa 2 koma sekian pun udah bisa lulus juga dari kampus. Tapi apakah ada perusahaan yang akan menerimanya secara mudah dengan jumlah IPK 2 koma sekian itu, impossible kan. Mungkin juga harus dengan pertimbangan berkali kali perusahaan tersebut menerimanya.
Ya, ALLAH SWT pemilik surga (perusahaan-red) juga. Sholat anda baru 17rakaat tiap harinya, tapi mungkin ALLAH sebagai pemilik “perusahaan” juga akan menimbang nimbang lagi, apakah anda bisa masuk ke perusahaannya atau tidak. Hmmmm…perbandingan yang bagus juga menurut saya. Well, mulailah dari sekarang untuk ber-rakaat lebih tiap hari, saya mengajak anda dan diri saya sendiri tentunya.
Masalah kedua, tentang UNAS yang masih kontroversi. Beliau bilang kehidupan ini memang diciptakan seimbang dan berpasangan oleh ALLAH. Ada panas-dingin, pria-wanita, gelap-malam, n many many more. Nah seharusnya ketika menjadi siswa SMA (mungkin sekarang atau sudah berlalu), memang harus ada yang berhasil dan gagal juga. Masa’ tiap anak SMA harus berhasil?? Kan ada juga yang gagal, yang berarti keberhasilan yang tertunda. Dari 100% siswa SMA yang mengikuti UNAS, 90% lulus, 10% tidak lulus. Nah lo, masa pemerintah mau ngikut yang 10%. Lalu indikator pendidikan kita apa nantinya, kalo UNAS jadi dihapus. (maaf, saya dulu juga agak diuntungkan pas saya UNAS..hehe)
Mungkin ketika anda gagal, anda baru bisa berinstropeksi diri dan mengaca serta mengharap hanya kepada ALLAH saja tentang apa yang telah anda lakukan sebelumnya sampai bisa gagal. Dan mungkin juga ketika anda berhasil, anda malah akan bertingkah sombong, lupa diri, dan tak tahu arti hidup sebenarnya. Ada saran juga dari beliau bahwa selayaknya kita selalu mengevaluasi diri kita tentang apa yang telah kita lakukan setiap harinya, tiap malam sebelum kita tidur.
Ya, begitulah memang kita ini diciptakan sebagai makhluk yang dho’if.
Atau memang ada saran seperti ini saja, UNAS tetap diadakan, namun siswa SMA tidak diwajibkan untuk mengikutinya. Pasti hanya siswa siswi SMA saja yang “berani” mengikutinya. Dan akhirnya, mungkin nanti pemerintah bisa memberikan kebijakan ke perguruan2 tinggi negeri seluruh Indonesia untuk lebih memprioritaskan yang mengikuti UNAS saja tentang penerimaan mahasiswa barunya. In another hand, mungkin perusahaan perusahaan di Indonesia juga bisa lebih memprioritaskan calon karyawan-karyawannya yang mengikuti UNAS dengan mencantumkan syarat-syarat dalam seleksi penerimaan calon karyawan.
Biar nanti orang-orang yang ikut UNAS dan tidak ikut UNAS memang harus berbeda. Usul yang aneh tapi logis ya. Sekian, besok nyambung lagi.
(dibuat saat lagu Jenny-Monster Karaoke muncul
)






